mioma uteri

Minggu, 21 Februari 2010


Mioma uteri merupakan tumor jinak otot rahim, disertai jaringan ikatnya. Mioma uteri berbatas tegas, tidak berkapsul, dan berasal dari otot polos jaringan fibrous, sehingga mioma uteri dapat berkonsistensi padat jika jaringan ikatnya dominan, dan berkonsistensi lunak jika otot rahimnya yang dominan. Mioma uteri biasa juga disebut leiomioma uteri, fibroma uteri, fibroleiomioma, mioma fibroid atau mioma simpel.

Mioma uteri merupakan tumor jinak yang paling sering ditemukan yaitu satu dari empat wanita selama masa reproduksi yang aktif. Kejadian mioma uteri sukar ditetapkan karena tidak semua mioma uteri memberikan keluhan dan memerlukan tindakan operatif. Walaupun kebanyakan mioma muncul tanpa gejala tetapi sekitar 60% ditemukan secara kebetulan pada laparatomi daerah pelvis.

Mioma uteri yang tidak memberikan gejala klinik yang bermakna paling sering ditemukan pada dekade ke-4 dan ke-5 serta lebih sering pada wanita kulit hitam, dan sekitar 5-10% merupakan submukosa.

Diet dan lemak tubuh juga berpengaruh terhadap resiko terjadinya myoma. Marshall (1998), Sato (1998) dan Chiaffarino menemukan bahwa resiko myoma meningkat seiring bertambahnya indeks massa tubuh dan knsumsi daging dan ham.

Sebagian besar mioma uteri ditemukan pada masa reproduksi, karena diduga berhubungan dengan aktivitas estrogen. Dengan demikian mioma uteri tidak dijumpai sebelum menarke dan akan mengalami regresi setelah menopause, tetapi tidak jika mioma uteri tidak regresi setelah menopause atau bahkan bertambah besar maka kemungkinan besar mioma uteri tersebut telah mengalami degenerasi ganas menjadi sarkoma uteri.

Bila ditemukan pembesaran abdomen sebelum menarke, hal itu pasti bukan mioma uteri tetapi kemungkinan besar kista ovarium dan resiko untuk mengalami keganasan sangat besar

Etiologi dan Patogenesis
Sampai saat ini belum diketahui penyebab pasti mioma uteri dan diduga merupakan penyakit multifaktorial. Dipercayai bahwa mioma merupakan sebuah tumor monoklonal yang dihasilkan dari mutasi somatik dari sebuah sel neoplastik tunggal. Sel-sel tumor mempunyai abnormalitas kromosom, khususnya pada kromosom lengan 12q13-15.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tumor, di samping faktor predisposisi genetik, adalah estrogen, progesteron dan human growth hormone.

1. Estrogen
  • Mioma uteri dijumpai setelah menarke.
  • Seringkali terdapat pertumbuhan tumor yang cepat selama kehamilan dan terapi estrogen eksogen. 
  • Mioma uteri akan mengecil pada saat menopause dan pengangkatan ovarium 
  • Adanya hubungan dengan kelainan lainnya yang tergantung estrogen seperti endometriosis (50%), perubahan fibrosistik dari payudara (14,8%), adenomyosis (16,5%) dan hiperplasia endometrium (9,3%).
  • Mioma uteri banyak ditemukan bersamaan dengan anovulasi ovarium dan wanita dengan sterilitas.
  • 17B hidroxydesidrogenase: enzim ini mengubah estradiol (sebuah estrogen kuat) menjadi estron (estrogen lemah). Aktivitas enzim ini berkurang pada jaringan miomatous, yang juga mempunyai jumlah reseptor estrogen yang lebih banyak daripada miometrium normal.
2. Progesteron
  • Progesteron merupakan antagonis natural dari estrogen. Progesteron menghambat pertumbuhan tumor dengan dua cara yaitu: mengaktifkan 17B hidroxydesidrogenase dan menurunkan jumlah reseptor estrogen pada tumor.
3. Hormon pertumbuhan
  • Level hormon pertumbuhan menurun selama kehamilan, tetapi hormon yang mempunyai struktur dan aktivitas biologik serupa yaitu HPL, terlihat pada periode ini, memberi kesan bahwa pertumbuhan yang cepat dari leiomioma selama kehamilan mingkin merupakan hasil dari aksi sinergistik antara HPL dan Estrogen

Dalam Jeffcoates Principles of Gynecology, ada beberapa faktor yang diduga kuat sebagai faktor predisposisi terjadinya mioma uteri, yaitu :

  • Umur: mioma uteri jarang terjadi pada usia kurang dari 20 tahun, ditemukan sekitar 10% pada wanita berusia lebih dari 40 tahun. Tumor ini paling sering memberikan gejala klinis antara 35-45 tahun.
  • Paritas: lebih sering terjadi pada nullipara atau pada wanirta yang relatif infertil, tetapi sampai saat ini belum diketahui apakan infertilitas menyebabkan mioma uteri atau sebaliknya mioma uteri yang menyebabkan infertilitas, atau apakah kedua keadaan ini saling mempengaruhi.
  • Faktor ras dan genetik : pada wanita ras tertentu, khususnya wanita berkulit hitam, angka kejadian mioma uteri tinggi. 14 Terlepas dari faktor ras, kejadian tumor ini tinggi pada wanita dengan riwayat keluarga ada yang menderita mioma.
  • Fungsi ovarium: diperkirakan ada korelasi antara hormon estrogen dengan pertumbuhan mioma, dimana mioma uteri muncul setelah menarke, berkembang setelah kehamilan dan mengalami regresi setelah menopause.
Pemberian agonis GnRH dalam waktu lama sehingga terjadi hipoestrogenik dapat mengurangi ukuran mioma. Efek estrogen pada pertumbuhan mioma mungkin berhubungan dengan respon mediasi oleh estrogen terhadap reseptor dan faktor pertumbuhan lain.

Terdapat bukti peningkatan produksi reseptor progesteron, faktor pertumbuhan epidermal dan insulin-like growth factor 1 yang distimulasi oleh estrogen. Anderson dkk, telah mendemonstrasikan munculnya gen yang distimulasi oleh estrogen lebih banyak pada mioma daripada miometrium normal dan mungkin penting pada perkembangan mioma. Namun bukti-bukti masih kurang meyakinkan karena tumor ini tidak mengalami regresi yang bermakna setelah menopause sebagaimana yang disangka. Lebih daripada itu tumor ini kadang-kadang berkembang setelah menopause bahkan setelah ooforektomi bilateral pada usia dini.



Lokasi mioma uteri pada uterus


Klasifikasi
Klasifikasi mioma dapat berdasarkan lokasi dan lapisan uterus yang terkena.
1. Lokasi
  • Cerivical (2,6%), umumnya tumbuh ke arah vagina menyebabkan infeksi.
  • Isthmica (7,2%), lebih sering menyebabkan nyeri dan gangguan traktus urinarius.
  • Corporal (91%), merupakan lokasi paling lazim, dan seringkali tanpa gejala.
2. Lapisan Uterus
    Mioma uteri pada daerah korpus, sesuai dengan lokasinya dibagi menjadi tiga jenis yaitu :
   
a. Mioma Uteri Subserosa
  • Lokasi tumor di subserosa korpus uteri dapat hanya sebagai tonjolan saja, dapat pula sebagai satu massa yang dihubungkan dengan uterus melalui tangkai. 
  • Pertumbuhan ke arah lateral dapat berada di dalam ligamentum latum dan disebut sebagai mioma intraligamenter. 
  • Mioma yang cukup besar akan mengisi rongga peritoneal sebagai suatu massa. Perlengketan dengan usus, omentum atau mesenterium di sekitarnya menyebabkan sistem peredaran darah diambil alih dari tangkai ke omentum. Akibatnya tangkai makin mengecil dan terputus, sehingga mioma akan terlepas dari uterus sebagai massa tumor yang bebas dalam rongga peritoneum. Mioma jenis ini dikenal sebagai jenis parasitik.
 Gambaran USG mioma subserous, tampak gambaran 
massa hipoekhoik yang menonjol ke luar dinding uterus


b. Mioma Uteri Intramural
  • Disebut juga sebagai mioma intraepitelial. Biasanya multipel apabila masih kecil tidak merubah bentuk uterus, tetapi bila besar akan menyebabkan uterus berbenjol-benjol, uterus bertambah besar dan berubah bentuknya. 
  • Mioma sering tidak memberikan gejala klinis yang berarti kecuali rasa tidak enak karena adanya massa tumor di daerah perut sebelah bawah. 
  • Kadang kala tumor tumbuh sebagai mioma subserosa dan kadang-kadang sebagai mioma submukosa. Di dalam otot rahim dapat besar, padat (jaringan ikat dominan), lunak (jaringan otot rahim dominan).
 
 Gambaran USG mioma intramural, tampak gambaran 
massa hipoekhoik yang berada di dalam dinding uterus


c. Mioma Uteri Submukosa
  • Terletak di bawah endometrium. Dapat pula bertangkai maupun tidak. Mioma bertangkai dapat menonjol melalui kanalis servikalis, dan pada keadaan ini mudah terjadi torsi atau infeksi. Tumor ini memperluas permukaan ruangan rahim.
  • Dari sudut klinik mioma uteri submukosa mempunyai arti yang lebih penting dibandingkan dengan jenis yang lain. Pada mioma uteri subserosa ataupun intramural walaupun ditemukan cukup besar tetapi sering kali memberikan keluhan yang tidak berarti. 
  • Sebaliknya pada jenis submukosa walaupun hanya kecil selalu memberikan keluhan perdarahan melalui vagina. Perdarahan sulit untuk dihentikan sehingga sebagai terapinya dilakukan histerektomi.

 
 Gambaran USG mioma submukosa, tampak gambaran 
 massa hipoekhoik yang menekan endometrial line

Secara makroskopis terlihat uterus berbenjol-benjol dengan permukaan halus. Pada potongan, tampak tumor berwarna putih dengan struktur mirip potongan daging ikan. Tumor berbatas tegas dan berbeda dengan miometrium yang sehat, sehingga tumor mudah dilepaskan. Konsistensi kenyal, bila terjadi degenerasi kistik maka konsistensi menjadi lunak. Bila terjadi kalsifikasi maka konsistensi menjadi keras.

Secara histologik tumor ditandai oleh gambaran kelompok otot polos yang membentuk pusaran, meniru gambaran kelompok sel otot polos miometrium. Fokus fibrosis, kalsifikasi, nekrosis iskemik dari sel yang mati. Setelah menopause, sel-sel otot polos cenderung mengalami atrofi, ada kalanya diganti oleh jaringan ikat.

 
Pada mioma uteri dapat terjadi perubahan sekunder yang sebagian besar bersifat degenerasi. Hal ini oleh karena berkurangnya pemberian darah pada sarang mioma. Perubahan ini terjadi secara sekunder dari atropi postmenopausal, infeksi, perubahan dalam sirkulasi atau transformasi maligna.

a. Atrofi 
    Setelah menopause dan rangsangan estrogen hilang.

b. Degenerasi hialin (merupakan perubahan degeneratif yang paling umum ditemukan):
  •     Jaringan ikat bertambah
  •     Berwarna putih dan keras
  •     Disebut “mioma durum”
  •     Degenerasi kistik :
  •     Bagian tengah dengan degenerasi hialin mencair
  •     Menjadi poket kistik
c. Degenerasi membatu (calcareous degeneration)
  • Terdapat timbunan kalsium pada mioma uteri.
  • Padat dan keras
  • Berwarna putih
d. Red degeneration (carneous degeneration)
  • Terjadi palings sering pada masa kehamilan.
  • Estrogen merangsang tumbuh kembang mioma.
  • Aliran darah tidak seimbang (edema sekitar tungkai dan tekanan hamil).
  • Terjadi kekurangan darah menimbulkan nekrosis, pembentukan trombus, bendungan darah dalam mioma, warna merah (hemosiderosis/hemofusin).
  • Proses ini biasanya disertai nyeri, tetapi dapat hilang sendiri. Komplikasi lain yang jarang ditemukan meliputi: kelahiran preterm, ruptur tumor dengan perdarahan peritoneal, shock dan bahkan mencetuskan DIC.
e. Degenerasi Mukoid
  • Daerah hyaline digantikan oleh bahan gelatinosa yang lembut. Biasanya terjadi pada tumor yang besar, dengan aliran arterial yang terganggu.
d. Degenerasi Lemak
  • Lemak ditemukan di dalam serat otot polos.
Degenerasi sarkomatous (transformasi maligna)
  • Terjadi pada kurang dari 1% mioma. Kontroversi yang ada saat ini adalah apakah hal ini mewakili sebuah perubahan degeneratif ataukah sebuah neoplasma spontan. 
  • Leiomyosarkoma merupakan sebuah tumor ganas yang jarang terdiri dari sel-sel yang mempunyai diferensiasi otot polos.
Gambaran Klinik
Hampir separuh dari kasus mioma uteri ditemukan secara kebetulan pada pemeriksaan pelvik rutin. Pada penderita memang tidak mempunyai keluhan apa-apa dan tidak sadar bahwa mereka sedang mengandung satu tumor dalam uterus.

Faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya gejala klinik meliputi :
  1. Besarnya mioma uteri.
  2. Lokalisasi mioma uteri.
  3. Perubahan-perubahan pada mioma uteri.
Gejala klinik terjadi hanya pada sekitar 35 % – 50% dari pasien yang terkena. Adapun gejala klinik yang dapat timbul pada mioma uteri:
a. Perdarahan abnormal
  • Merupakan gejala klinik yang sering ditemukan (30%). Bentuk perdarahan yang ditemukan berupa: menoragi, metroragi, dan hipermenorrhea. 
  • Perdarahan dapat menyebabkan anemia defisiensi Fe. 
  • Perdarahan abnormal ini dapat dijelaskan oleh karena bertambahnya area permukaaan dari endometrium yang menyebabkan gangguan kontraksi otot rahim, distorsi dan kongesti dari pembuluh darah di sekitarnya dan ulserasi dari lapisan endometrium.
b. Penekanan rahim yang membesar 
  • Terasa berat di abdomen bagian bawah.
c. Gejala traktus urinarius
  • urine frequency, 
  • retensi urine, 
  • obstruksi ureter dan hidronefrosis.
d. Gejala intestinal:
  • konstipasi obstruksi intestinal.
e. Terasa nyeri karena tertekannya saraf.
  • Nyeri, dapat disebabkan oleh Penekanan saraf, Torsi bertangkai, Submukosa mioma terlahir.

Infeksi pada mioma
Infertilitas, akibat penekanan saluran tuba oleh mioma yang berlokasi di cornu. Perdarahan kontinyu pada pasien dengan mioma submukosa dapat menghalangi implantasi. Terdapat peningkatan insiden aborsi dan kelahiran prematur pada pasien dengan mioma intramural dan submukosa.

Kongesti vena, disebabkan oleh kompresi tumor yang menyebabkan edema ekstremitas bawah, hemorrhoid, nyeri dan dyspareunia.

Gangguan pertumbuhan dan perkembangan kehamilan.
1. Kehamilan dengan disertai mioma uteri menimbulkan proses saling mempengaruhi :
  • Kehamilan dapat mengalami keguguran.
  • Persalinan prematuritas.
  • Gangguan proses persalinan.
  • Tertutupnya saluran indung telur menimbulkan infentiritas.
  • Pada kala III dapat terjadi gangguan pelepasan plasenta dan perdarahan.
  • Biasanya mioma akan mengalami involusi yang nyata setelah kelahiran.


Diagnosis
Diagnosis mima uteri ditegakkan berdasarkan:
1. Anamnesis
  • Timbul benjolan di perut bagian bawah dalam waktu yang relatif lama.
  • Kadang-kadang disertai gangguan haid, buang air kecil atau buang air besar.
  • Nyeri perut bila terinfeksi, terpuntir, pecah.
2. Pemeriksaan fisik
  • Palpasi abdomen didapatkan tumor di abdomen bagian bawah.
  • Pemeriksaan ginekologik dengan pemeriksaan bimanual didapatkan tumor tersebut menyatu dengan rahim atau mengisi kavum Douglasi.
  • Konsistensi padat, kenyal, mobil, permukaan tumor umumnya rata.
Gejala klinis
  • Adanya rasa penuh pada perut bagian bawah dan tanda massa yang padat kenyal.
  • Adanya perdarahan abnormal.
  • Nyeri, terutama saat menstruasi.
  • Infertilitas dan abortus.
Pemeriksaan luar
  • Teraba massa tumor pada abdomen bagian bawah serta pergerakan tumor dapat terbatas atau bebas.
  • Pemeriksaan dalam
  • Teraba tumor yang berasal dari rahim dan pergerakan tumor dapat terbatas atau bebas dan ini biasanya ditemukan secara kebetulan.
Pemeriksaan penunjang
  • USG, untuk menentukan jenis tumor, lokasi mioma, ketebalan endometriium dan keadaan adnexa dalam rongga pelvis. 
  • Mioma juga dapat dideteksi dengan CT scan ataupun MRI, tetapi kedua pemeriksaan itu lebih mahal dan tidak memvisualisasi uterus sebaik USG. Untungnya, leiomiosarkoma sangat jarang karena USG tidak dapat membedakannya dengan mioma dan konfirmasinya membutuhkan diagnosa jaringan.
  • Dalam sebagian besar kasus, mioma mudah dikenali karena pola gemanya pada beberapa bidang tidak hanya menyerupai tetapi juga bergabung dengan uterus; lebih lanjut uterus membesar dan berbentuk tak teratur.
  • Foto BNO/IVP pemeriksaan ini penting untuk menilai massa di rongga pelvis serta menilai fungsi ginjal dan perjalanan ureter.
  • Histerografi dan histeroskopi untuk menilai pasien mioma submukosa disertai dengan infertilitas.
  • Laparaskopi untuk mengevaluasi massa pada pelvis.

Komplikasi
  • Perdarahan sampai terjadi anemia.
  • Torsi tangkai mioma dari  : mioma uteri subserosa dan mioma uteri submukosa.
  • Nekrosis dan infeksi, setelah torsi dapat terjadi nekrosis dan infeksi.

Pengaruh timbal balik mioma dan kehamilan.
Pengaruh mioma terhadap kehamilan.
  • Infertilitas.
  • Abortus.
  • Persalinan prematuritas dan kelainan letak.
  • Inersia uteri.
  • Gangguan jalan persalinan.
  • Perdarahan post partum.
  • Retensi plasenta.
Pengaruh kehamilan terhadap mioma uteri
  • Mioma cepat membesar karena rangsangan estrogen.
  • Kemungkinan torsi mioma uteri bertangkai. 2,3,8,9,10
  • Diagnosis Banding
  • Tumor solid ovarium.
  • Uterus gravid.
  • Kelainan bawaan rahim.
  • Endometriosis, adenomiosis.
  • Perdarahan uterus disfungsional.
Penanganan
Penanganan mioma uteri tergantung pada umur, paritas, lokasi, dan ukuran tumor, dan terbagi atas :
1. Penanganan konservatif, bila : mioma yang kecil pada pra dan post menopause tanpa gejala.
Cara penanganan konservatif sebagai berikut :
  • Observasi dengan pemeriksaan pelvis secara periodik setiap 3-6 bulan.
  • Bila anemia, Hb < 8 g% transfusi PRC.
  • Pemberian zat besi.
  • Penggunaan agonis GnRH leuprolid asetat 3,75 mg IM pada hari 1-3 menstruasi setiap minggu sebanyak tiga kali. Obat ini mengakibatkan pengerutan tumor dan menghilangkan gejala. Obat ini menekan sekresi gonadotropin dan menciptakan keadaan hipoestrogenik yang serupa yang ditemukan pada periode postmenopause. Efek maksimum dalam mengurangi ukuran tumor diobservasi dalam 12 minggu. 
  • Terapi agonis GnRH ini dapat pula diberikan sebelum pembedahan, karena memberikan beberapa keuntungan: mengurangi hilangnya darah selama pembedahan, dan dapat mengurangi kebutuhan akan transfusi darah. 
  • Baru-baru ini, progestin dan antipprogestin dilaporkan mempunyai efek terapeutik. Kehadiran tumor dapat ditekan atau diperlambat dengan pemberian progestin dan levonorgestrol intrauterin.
2. Penanganan operatif, bila :
  • Ukuran tumor lebih besar dari ukuran uterus 12-14 minggu.
  • Pertumbuhan tumor cepat.
  • Mioma subserosa bertangkai dan torsi.
  • Bila dapat menjadi penyulit pada kehamilan berikutnya.
  • Hipermenorea pada mioma submukosa.
  • Penekanan pada organ sekitarnya.


Jenis operasi yang dilakukan dapat berupa :

a) Enukleasi Mioma
Dilakukan pada penderita infertil atau yang masih menginginkan anak atau mempertahankan uterus demi kelangsungan fertilitas. Sejauh ini tampaknya aman, efektif, dan masih menjadi pilihan terbaik. Enukleasi sebaiknya tidak dilakukan bila ada kemungkinan terjadinya karsinoma endometrium atau sarkoma uterus, juga dihindari pada masa kehamilan. Tindakan ini seharusnya dibatasi pada tumor dengan tangkai dan jelas yang dengan mudah dapat dijepit dan diikat. Bila miomektomi menyebabkan cacat yang menembus atau sangat berdekatan dengan endometrium, kehamilan berikutnya harus dilahirkan dengan seksio sesarea.

Kriteria preoperasi menurut American College of Obstetricians Gynecologists (ACOG) adalah sebagai berikut :
  • Kegagalan untuk hamil atau keguguran berulang.
  • Terdapat leiomioma dalam ukuran yang kecil dan berbatas tegas.
  • Apabila tidak ditemukan alasan yang jelas penyebab kegagalan kehamilan dan keguguran yang berulang.
b) Histerektomi
Dilakukan bila pasien tidak menginginkan anak lagi, dan pada penderita yang memiliki leiomioma yang simptomatik atau yang sudah bergejala. Kriteria ACOG untuk histerektomi adalah sebagai berikut:
Terdapatnya 1 sampai 3 leiomioma asimptomatik atau yang dapat teraba dari luar dan dikeluhkan olah pasien.
 Perdarahan uterus berlebihan :
      • Perdarahan yang banyak bergumpal-gumpal atau berulang-ulang selama lebih dari 8 hari.
      • Anemia akibat kehilangan darah akut atau kronis. 
Rasa tidak nyaman di pelvis akibat mioma meliputi :
      • Nyeri hebat dan akut.
      • Rasa tertekan punggung bawah atau perut bagian bawah yang kronis.
      • Penekanan buli-buli dan frekuensi urine yang berulang-ulang dan tidak disebabkan infeksi saluran kemih.

c) Penanganan Radioterapi
  • Hanya dilakukan pada pasien yang tidak dapat dioperasi (bad risk patient).
  • Uterus harus lebih kecil dari usia kehamilan 12 minggu.
  • Bukan jenis submukosa.
  • Tidak disertai radang pelvis atau penekanan pada rektum.
  • Tidak dilakukan pada wanita muda, sebab dapat menyebabkan menopause.
  • Maksud dari radioterapi adalah untuk menghentikan perdarahan.
Reade more >>
READ MORE - mioma uteri

Jangan Sembarang Minum Obat Saat Hamil !

Jumat, 08 Januari 2010


Penggunaan obat pada saat mengandung bagi ibu hamil harus diperhatikan. Ibu hamil yang mengkonsumsi obat secara sembarangan dapat menyebabkan cacat pada janin. Sebagian obat yang diminum oleh ibu hamil dapat menembus plasenta sampai masuk ke dalam sirkulasi janin, sehingga kadarnya dalam sirkulasi bayi hampir sama dengan kadar dalam darah ibu yang dalam beberapa situasi akan membahayakan bayi.

Resiko terjadinya efek merugikan akibat mengonsumsi obat pada ibu hamil tergantung pada jenis dan kapan obat tersebut diberikan. Dalam dua minggu pertama, pertumbuhan embrio janin diketahui rentan terhadap efek teratogenik (kecacatan pada janin) yang berakibat abortus spontan, malformasi bawaan, perlambatan pertumbuhan janin dan perkembangan mental. Periode paling kritis dari pertumbuhan embrio dimulai sekitar 17 hari pascakonsepsi (pasca pembuahan) saat sistem organ sedang berkembang, hingga 60-70 hari. Pada periode itu dapat menyebabkan terjadinya cacat bawaan.

Obat-obat yang perlu diperhatikan semasa kehamilan diantaranya:

Obat peluruh kencing (golongan thiazide): obat jenis ini biasanya diberikan jika tungkai dan kaki ibu hamil membengkak, atau tekanan darah ibu sedikit meninggi. Obat jenis ini perlu diwaspadai karena dapat menyebabkan bayi lahir berbibir sumbing.

Obat-obat “Peluntur”: Penggunaan obat pelancar haid, untuk haid terlambat yang dapat berarti terjadi kehamilan, sebenarnya bekerja sebagai obat penggugur kandungan. Apabila dengan obat tersebut anak gagal dikeluarkan dan kehamilan terus berlanjut, maka kemungkinan besar anak akan lahir cacat. Hormon golongan norethisteron dan progesteron dapat membuat anak perempuan yang dilahirkan bersifat kelaki-lakian.

Obat TBC: Obat-obat ini dilarang bagi ibu hamil, terutama pada trimester pertama kehamilan. Jika dikonsumsi akan mengakibatkan bayi lahir dengan kondisi bisu tuli. Obat-obatan antituberkulosis seperti isoniazid dan rifampisin, aman digunakan pada kehamilan

Obat Diabetes: Untuk obat diabetes yang diminum, sebaiknya dihentikan sementara. Lebih baik utamakan pengaturan diet atau penggunaan insulin injeksi jika diperlukan.

Obat Penghalus Kulit: Salah satu kandungan obat ini yaitu vitamin A asam (retinoic acid), baik yang diminum maupun yang dioleskan pada kulit. Golongan retinoic acid dapat menyebabkan anak lahir tanpa kepala, cacat sumsum tulang belakang, bibir sumbing, atau ginjal membalon (hydronephrosis).

Antibiotika: contohnya yaitu tetrasiklin. Obat ini dapat mengganggu pertumbuhan tulang dan gigi, selain itu anak dapat lahir sumbing. Golongan streptomisin, gentamisin, kanamisin, bisa mengakibatkan gangguan saraf telinga. Golongan metronidazol yang biasa diberikan untuk keputihan mengakibatkan bibir anak sumbing. Pemberian antibiotik berisiko menyebabkan kanker darah bagi janin dan risiko kelainan lainnya. Untuk antibiotik, dipakai golongan penisilin dan golongan sepalosporin yang relatif aman bagi ibu hamil.

Obat penghilang rasa sakit dan demam: Umumnya dokter memberikan golongan aspirin dan parasetamol, serta analgetik golongan narkotik. Namun bila aspirin digunakan dalam dosis tinggi dapat mempengaruhi keasaman lambung, dan dapat menimbulkan pendarahan pada janin.

Parasetamol dalam dosis tinggi dan jangka waktu pemberian yang lama bisa menyebabkan toksisitas atau keracunan pada ginjal.

Obat kina atau obat demam dan sakit kepala golongan salisilat seperti dikandung dalam puyer sakit kepala yg dijual bebas dipasaran dapat mengakibatkan bayi lahir dengan kondisi bisu tuli.

Untuk kasus preeklamsia, yaitu suatu kondisi dimana tekanan darah meningkat dengan tiba-tiba pada usia kehamilan 20 minggu, tekanan darah sistolik diatas 140 mm Hg dan tekanan darah diastolik di atas 90 mm Hg, bisa diberikan magnesium sulfat lewat infus. Kadang pasien diminta minum aspilet atau Omega-3 dengan harapan tidak terjadi pembekuan darah. Sedangkan penggunaan kodein dalam jangka pendek diperbolehkan untuk menghilangkan batuk.

Obat mual dan muntah: dapat dengan mengkonsumsi obat kombinasi antara dioksilamin dan piridoksin (Vitamin B6).

Obat tukak lambung: dapat mengkonsumsi antasida atau ranitidin

Obat asma: obat-obatan golongan bronkodilator umumnya aman. Malah obat ini mempunyai efek menguntungkan untuk janin yaitu penyediaan oksigennya bertambah sehingga kesejahteraan janin lebih meningkat.

Sekalipun obat yg dikonsumsi ibu hamil tergolong aman, tapi jika bisa tanpa obat sebaiknya pilih untuk tidak meminum obat. Tidak segala keluhan perlu diobati, seperti sakit kepala, mulas, pegal, mual dan sedikit demam. Hal ini dapat diatasi dengan beristirahat, menyisihkan waktu jeda dari kesibukan, dan perbanyak makan buah, sayur dan minum air putih.

Peran medis dan ahli obat dalam pemberian obat sewaktu kehamilan sangatlah penting. Tidak kalah pentingnya kesadaran ibu hamil untuk melakukan konsultasi jika mengalami gangguan selama kehamilan dan tentang obat-obat yang akan dikonsumsi. Ibu hamil sebaiknya menskusikan dulu dengan dokter atau bidan sebelum menggunakan obat. Ibu hamil perlu mengetahui obat yang diberikan termasuk golongan apa, dan cara kerjanya (Apakah obat ini bisa menembus sawar pembatas plasenta dan bisa berpengaruh terhadap mutasi gen yang berdampak pada kecacatan bayi?).

Pada saat minum obat ibu hamil perlu untuk memperhatikan reaksi obat yang muncul, perhatikan adanya penurunan gerakan janin, atau adanya perdarahan setelah minum obat ini. Jika hal tersebut terjadi, segera hentikan penggunaan obat dan lakukan konsultasi kembali.
Selama hamil, apa pun yang ibu telan juga akan ‘ditelan’ oleh anak yang dikandungnya. Jadi ekstra hati-hatilah dalam mengonsumsi obat-obatan!

sumber : http://piogama.ugm.ac.id/
Reade more >>
READ MORE - Jangan Sembarang Minum Obat Saat Hamil !

wapada gangguan pada saat hamil

Gejala tertentu saat hamil kadang butuh pertolongan dokter segera. Jika ibu menemui gejala-gejala berikut ini, itu artinya alarm tanda bahaya telah berbunyi, dan segeralah telepon dokter untuk meminta saran tindakan apa yang seharusnya dilakukan.

  1. Sakit perut yang hebat atau bertahan lama, Perdarahan atau terjadi bercak dari vagina, Bocornya cairan atau perubahan dalam cairan yang keluar dari vagina. Yakni jika menjadi berair, lengket, atau berdarah. 
  2. Adanya tekanan pada panggul, sakit di punggung bagian bawah, atau kram sebelum usia 37 minggu kehamilan. Pipis yang sakit atau terasa seperti terbakar. 
  3. Sedikit pipis atau tidak pipis sama sekali. Muntah berat atau berulangkali, atau muntah disertai sakit atau demam. Menggigil atau demam di atas 101 derajat Fahrenheit (38,3 C). R
  4. asa gatal yang menetap di seluruh tubuh, khususnya jika dibarengi kulit tubuh menguning, urine berwarna gelap, dan feses berwarna pucat. 
  5. Gangguan penglihatan, seperti pandangan ganda, pandangan kabur, buram, atau ada titik mata yang terasa silau jika memandang sesuatu. Sakit kepala berat yang bertahan lebih dari 2-3 jam. 
  6. Pembengkakan atau terasa berat akibat cairan (edema) pada tangan, muka dan sekitar mata, atau penambahan berat badan yang tiba-tiba, sekitar 1 kilo atau lebih, yang tidak berkaitan dengan pola makan. 
  7. Kram parah yang menetap pada kaki atau betis, yang tidak mereda ketika ibu hamil menekuk lutut dan menyentuhkan lutut itu ke hidung.
  8. Penurunan gerakan janin. Sebagai panduan umum, jika terjadi kurang dari 10 gerakan dalam 2 jam pada kehamilan minggu ke-26 atau lebih, artinya kondisi janin tidak normal .
  9. Trauma atau cedera pada daerah perut. Pingsan atau pusing-pusing, dengan atau tanpa palpitasi (pupil mata menyempit). Masalah kesehatan lain yang biasanya membuat ibu telepon ke dokter, meski jika tidak sedang hamil.

Perlu dicatat, gejala-gejala diatas mungkin lebih atau kurang mendesak tergantung pada situasi khusus atau riwayat kesehatan ibu dan sudah berapa minggu ibu jalani kehamilan. Sebelumnya, mungkin ada baiknya jika ibu dan dokter mendiskusikan bersama berbagai titik di masa kehamilan yang mungkin bisa menimbulkan kondisi darurat.

Jika ibu hamil tak yakin apakah gejala itu serius atau tidak, jangan menyimpulkannya dengan pikiran sendiri. Jika ibu hamil merasa tidak mudah memutuskannya, percayalah pada insting dan segera telepon dokter.

Jika ada masalah, ibu akan mendapat pertolongan segera. Jika tidak ada masalah pun, ibu akan merasa aman kembali. Tubuh ibu hamil berubah dengan cepat sehingga sukar mengetahui apakah yang ibu alami itu normal atau tidak

Sumber: Tabloid Ibu & Anak No. 253/ V
Reade more >>
READ MORE - wapada gangguan pada saat hamil

Aborsi , boleh tidak?

Menjalani kehamilan itu berat, apalagi kehamilan yang tidak dikehendaki. Terlepas dari alasan apa yang menyebabkan kehamilan, aborsi dilakukan karena terjadi kehamilan yang tidak diinginkan. Apakah dikarenakan kontrasepsi yang gagal, perkosaan, ekonomi, jenis kelamin atau hamil di luar nikah.
Mengenai alasan aborsi, memang banyak mengundang kontroversi. Ada yang berpendapat bahwa aborsi perlu di legalkan dan ada yang berpendapat tidak perlu dilegalkan.

Pelegalan aborsi dimaksudkan untuk mengurangi tindakan aborsi yang dilakukan oleh orang yang tidak berkompeten, misalnya dukun beranak.Sepanjang aborsi tidak dilegalkan maka angka kematian ibu akibat aborsiakan terus meningkat.

Ada yang mengkatagorikan Aborsi itu pembunuhan. Ada yang melarang atas nama agama. Ada yang menyatakan bahwa jabang bayi juga punya hak hidup sehingga harus dipertahankan, dan lain-lain.
Jika aborsi untuk alasan medis, aborsi adalah legal, untuk korban perkosaan, masih di grey area, aborsi masih diperbolehkan walaupun tidak semua dokter mau melakukannya. Kasus perkosaan merupakan pilihan yang sulit.

Meskipun bisa saja kita mengusulkan untuk memelihara anaknya hingga lahir, lalu diadopsikan ke orang lain, itu semua tergantung kematangan jiwa si ibu dan dukungan masyarakat agar anak yang dilahirkan tidak dilecehkan oleh masyarakat.
 
Untuk kehamilan diluar nikah atau karena sudah kebanyakan anak dan kontrasepsi gagal perlu dipirkirkan kembali karena masih banyak orang mendambakan anak.
Sebaiknya kita jangan mencari pemecahan masalah yang pendek / singkat / jalan pintas, tapi harus jauh menyentuh dasar timbulnya masalah itu sendiri. Prinsip melegalkan aborsi, sama seperti prinsip lokalisasi.

Banyak celah yang justru akan dimanfaatkan untuk begituan. Karena seks bebas sudah jadi realita sekarang ini, apalagi di kota-kota besar. Jika di data, orang-orang yang ingin mengaborsi, berapa persen yang dikarenakan anaknya 7 dan malnutrisi semua, dibandingkan karena hamil diluar nikah - atau hamil dalam perselingkuhan, jauh lebih besar yg. karena di luar nikah daripada karena alasan ekonomi.

Perempuan berhak dan harus melindungi diri mereka dari eksploitasi orang lain, termasuk suaminya, agar tidak perlu aborsi. Sebab aborsi, oleh paramedis ataupun oleh dukun, legal atau illegal, akan tetap menyakitkan buat wanita, lahir dan batin meskipun banyak yang. menyangkalnya.

Karena itu kita harus berupaya bagaimana caranya supaya tidak sampai berurusan dengan hal yang akhirnya merusak diri sendiri. Karena ada laki-laki yang bisa seenak melenggang pergi, dan tidak peduli apa-apa meskipun pacarnya/istrinya sudah aborsi dan mereka tidak bisa diapa-apakan, kecuali pemerkosa, yang jelas ada hukumnya. Jadi solusinya bukan cuma dari rantai yang pendek, tapi dari ujung rantai yang terpanjang, yaitu : penyuluhan tentang seks yang benar.

Jika diliat kebelakang, mengapa banyak remaja yg aborsi, karena mereka melakukan seks bebas untuk itu diperlukan pendidikan agama agar moral mereka tinggi dan sadar bahwa free seks tidak sesuai dengan agama dan berbahaya.

Jika tidak ingin hamil gunakan kontrasepsi yang paling aman dan kontrasepsi yang paling aman adalah tidak berhubungan seks sama sekali. Segala sesuatu itu ada resikonya. Untuk itu sebelum bertindak, orang harus mulai berpikir : nanti bagaimana bukannya bagaimana nanti.

Untuk yang menerima sex sebelum nikah seperti di USA sebaiknya mereka mengetahui cara-cara kontrasepsi, dan pentingnya kontrasepsi, selain mencegah kehamilan juga dapat mencegah penyakit menular, mungkinkah ini bisa mengurangi jumlah aborsi?

Keputusan aborsi juga dapat keluar dalam waktu yang singkat, dan setelah melewati waktu krisis, bisa saja keputusan aborsi dibatalkan karena ada seseorang yang mendampingi memberikan support, dan dia tidak jadi mengaborsi.

Keputusan untuk aborsi, kemungkinan bisa menghantui seumur hidupnya, mengaborsi anaknya, dan selama beberapa minggu dia masih menyesali dan menangisi kejadian itu, seperti kematian seorang anak.
Apalagi jika aborsi dilakukan akibat paksaan, misalnya paksaan dari orangtua, demi nama baik keluarga.

Bayangkan berapa banyak orang-orang yang. bisa dipaksa untuk menggugurkan, jika aborsi ini dilegalkan.
Aborsi dapat terjadi karena pernikahan yang tidak sehat, misalnya salah satu dari suami-isteri merasa tidak nyaman tidak ada komunikasi yang baik di antara suami istri dan saling pengertian. Adanya tekanan ataupun ancaman dari pihak tertentu terhadap seorang wanita untuk dapat memberikan anak laki-laki. Yang ada adalah rasa mementingkan diri sendiri saja dan pengeksploitasian. Kehamilan bukan hanya peran wanita saja tetapi peran serta pria, juga dalam hal mendapatkan jenis kelamin anak, karena pria yang meberikan kromosom X atau kromosom Y.

Jika seorang isteri mengalah untuk hamil lagi karena tekanan demi keamanan rumah tangga tetapi dikemudian hari anak diasuh dengan setengah hati akan berakibat buruh bagi seorang anak, untuk itu jika mengalah menerima dengan berlapang dada, walaupun manusia sangat sedikit yang mampu berlapang dada.
Untuk pasangan suami-isteri yang tidak mampu dari segi ekonomi, jasmani ataupun rohani untuk mendapatkan anak lagi, pengunaan kontrasepsi merupakan salah satu cara untuk mencegah aborsi.
Reade more >>
READ MORE - Aborsi , boleh tidak?

Kiat Mendapatkan Momongan

Banyak pasangan yang sudah menjalani kehidupan rumah tangga selama bertahun-tahun, namun hingga kini belum juga diberi momongan. Padahal mereka selalu getol memeriksakan diri pergi ke dokter kandungan untuk memastikan kesehatannya. Tak jarang dari hasil pemeriksaan, baik lewat pemeriksaan hormon maupun darah, keduanya dinyatakan normal.


Menyikapi hal tersebut, ada beberapa faktor yang mesti diperhatikan untuk Anda yang ingin cepat memiliki momongan.

Pertama, faktor usia. Usia wanita yang ideal untuk mendapatkan momongan adalah usia di bawah 35 tahun. Jika usia sudah di atas 35 tahun, maka cadangan sel telur di indung telur sudah berkurang dan kualitasnya juga menurun. Jadi persentase untuk mendapatkan momongan juga semakin berkurang, meski tergantung pada masing-masing orang.

Karena masih ada wanita yang bisa hamil walaupun usianya sudah 40 tahun.
Kedua, masa subur. Hal itu tergantung pada siklus menstruasi. Siklus menstruasi wanita normal bervariasi yaitu diantara 21-36 hari. Masa subur dihitung plus minus 3 hari pada 14 hari dari haid berikutnya. Misalnya, bila haid jatuh pada tanggal 28 Juli 2005, maka tanggal subur dihitung 14 hari sebelumnya yaitu 14 Juli 2005. Masa subur plus minus 3 hari dari 14 Juli yaitu 11-17 Juli 2005.

Peluang kehamilan tidak ada hubungannya dengan orgasme dan posisi berhubungan seks. Yang paling penting adalah pertemuan antara sperma dengan sel telur. Saat ejakulasi, minimalkanlah terbuangnya sperma meski hanya dibutuhkan satu sperma untuk membuahi sel telur.

Posisi wanita di atas atau di bawah, berdiri atau gaya lainnya, bisa dilakukan selama hubungan seksual. Setelah ejakulasi panggul wanita sebaiknya ditinggikan atau diletakkan di atas bantal agar sperma terendam di dalam rahim. Dan, yang terpenting adalah sperma pasangan Anda dalam kualitas yang bagus.

Selain itu, olahraga secara teratur sangat baik untuk kesehatan seksual. Dengan berolahraga, maka aliran darah ke semua organ, termasuk kedalam rahim, akan berjalan lancar.

Begitu pula dengan nutrisi yang seimbang.Vitamin E sebagai antioksidan yang banyak dikonsumsi dalam bentuk jus tauge mentah sebetulnya kurang terbukti manfaatnya. Sebagian penelitian mengatakan vitamin E tidak menunjang kesuburan, tapi sebagian lagi mengatakan menunjang kesuburan. Kendati demikian tidak ada salahnya Anda mengkonsumsi vitamin E.

Anda dan pasangan yang sudah memenuhi faktor-faktor di atas, namun belum juga mendapat momongan, sebaiknya Anda berdua memeriksakan diri ke dokter. Ada faktor lain yang ikut menentukan kehamilan yang perlu diperiksa.

Misalnya, wanita harus mempunyai sel telur dan suami memiliki sperma dengan kualitas bagus. Bila wanita dengan pola haid tidak teratur alias maju mundur tidak karuan, maka lebih cenderung dianggap tidak bertelur. Penyebabnya bermacam-macam, bisa akibat gangguan hormonal atau kegemukan.

Suami disebut memiliki sperma dengan kualitas yang bagus bila jumlah spermanya minimal 20 juta sperma, morfologinya (bentuk anatomi) normal dan gerakan sperma (mortilitas) juga bagus.
Kesehatan organ reproduksi juga harus baik. Bentuk rahim, saluran telur, indung telur harus normal. Keberadaan tumor meski sebesar jerawat di dalam saluran telur atau indung telur bisa menyebabkan kemungkinan tidak hamil.

Bila anatomi rahim sudah sehat maka yang perlu diperiksa adalah saluran rahim, jalan masuknya sperma. Jika saluran tersumbat, misalnya karena infeksi, maka otomatis sel sperma tidak bisa bertemu dengan sel telur.
Gangguan hormonal yang dipengaruhi faktor fisik dapat membuat sel telur tidak keluar dari indung telur.

Biasanya dokter memastikan pasiennya memiliki siklus bertelur atau tidak dengan pemeriksaan hormonal dan USG. Pemeriksaan USG yaitu dengan melihat folikel (gelembung kecil) membesar atau tidak dan pecah atau tidak pada hari-hari tertentu di hari ke 13-15 pada saat masa subur dan ketebalan rahim cukup atau tidak.
Reade more >>
READ MORE - Kiat Mendapatkan Momongan

Insisi Dührssen

Minggu, 03 Januari 2010

Protected by Copyscape Plagiarism Check
Adalah insisi yang dilakukan di portio pada jam 10, jam 2, dan kadang disertai pada jam 6. Insisi ini dilakukan untuk membantu melahirkan kepala janin yang terperangkap pada persalinan presentasi bokong

Insisi Dührssen pertama kali diperkenalkan oleh Alfred Dührssen , seorang ahli obstetri ginekologi berkebangsaan jerman pada tahun 1890.


Selain untuk melahirkan kepala yang terperangkap, Insisi Dührssen juga dilakukan untuk mencegah robekan serviks yang lebih jauh ke arah proximal, atau membantu melahirkan janin pada pembukaan serviks yang tidak maksimal

Reade more >>
READ MORE - Insisi Dührssen

Doppler Ultrasound in Gynecology and Obstetrics

Jumat, 01 Januari 2010


The second edition of Doppler Ultrasound in Obstetrics and Gynecology has been expanded and comprehensively updated to present the current standards of practice in Doppler ultrasound and the most recent developments in the technology. DopplerUltrasound in Obstetrics and Gynecology encompasses the full spectrum of clinical applications of Doppler ultrasound for the practicing obstetrician-gynecologist, including the latest advances in 3D and color Doppler and the newest techniques in 4D fetal echocardiography. Written by preeminent experts in the field, the book covers the basic and physical principles of Doppler ultrasound; the use of Doppler for fetal examination, including fetal cerebral circulation; Doppler echocardiography of the fetal heart; and the use of Doppler for postdated pregnancy and in cases of multiple gestation. Chapters on the use of Doppler for gynecologic investigation include ultrasound in ectopic pregnancy, for infertility, for benign disorders and for gynecologic malignancies.

Reade more >>
READ MORE - Doppler Ultrasound in Gynecology and Obstetrics

Clinical Protocols in Obstetrics and Gynecology



Clinical Protocols in Obstetrics and Gynecology
Dr John E. Turrentine

Expanded and updated, the new edition of the bestselling Clinical Protocols in Obstetrics and Gynecology is the definitive quick-reference for use in office practice and hospital settings. With information drawn from ACOG technical bulletins, obstetrics and gynaecological publications, articles, textbooks, computer sources and the author's vast personal experience, this text outlines of more than 400 clinical protocols help ensure that everyone on the team is on the same page.

Flowcharts and algorithms make common problems seem simpler. Tables and decision trees make the information easy to refer to when running from room to room during a busy day in the office or hospital.

This complete, up-to-date coverage makes Clinical Protocols in Obstetrics and Gynecology, Third Edition the best available study guide for board certification and a complete reference for busy obstetricians and gynecologists.

Reade more >>
READ MORE - Clinical Protocols in Obstetrics and Gynecology

Danforth's Obstetrics and Gynecology, 10th edition

Rabu, 30 Desember 2009

Danforth's Obstetrics and Gynecology, 10th edition
By Ronald S. Gibbs, Beth Y. Karlan, Arthur F. Haney, Ingrid Nygaard
Publisher: Lippincott Williams & Wilkins
10th Edition - Number Of Pages: 1152
Publication Date: 2008-04-01
ISBN-10 / ASIN: 078176937X
ISBN-13 / EAN: 9780781769372

Established as the industry standard for over 40 years, the latest offering of Danforth's Obstetrics and Gynecology continues to provide residents and practitioners complete and authoritative coverage of the clinical practice of obstetrics and gynecology. Bolstered with the contributions of a new co-editor, the thoroughly revised text offers a complete urogynecology section with new chapters on urinary and fecal incontinence and the overactive bladder.










Reade more >>
READ MORE - Danforth's Obstetrics and Gynecology, 10th edition